Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

SPOTSATU.COM

Informasi Mencerahkan

OPINI : Antara Konseling dan Masa Depan Siswa: Investasi yang Sering Diremehkan

Editor Luwu admweb admweb

Oleh : Haswan, S.Pd Gr.
Alumni FKIP Universitas Muhammadiyah Palopo
Jurusan : Bimbingan dan Konseling

Di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi dan persaingan global yang kian ketat, sekolah sering kali diukur dari angka-angka: nilai ujian, peringkat, dan persentase kelulusan. Namun, ada satu elemen penting yang kerap luput dari perhatian serius—konseling. Padahal, jika berbicara tentang masa depan siswa, konseling bukanlah pelengkap, melainkan fondasi.

Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat, informasi dari berbagai sumber menjadi lebih muda didapatkan. Tak jarang status yang diposting orang-orang di sosial media menyinggung atau menyerang individu atau kelompok sehingga kondisi ini juga menjalar ke lingkungan sekolah. Beberapa kejadian para siswa saling mengejek, membuli melalui sosmed. Kondisi ini akhirnya menciptakan lingkungan sekolah yang rawan akan tindakan bullying antara siswa, sehingga korban dan pelaku bullying sama-sama akan menjadi generasi dengan mental yang kurang baik untuk masa depan mereka.

Menurut saya, konseling di sekolah bukan sekadar ruang untuk “curhat” ketika siswa bermasalah. Konseling adalah ruang aman tempat siswa belajar memahami diri, mengelola emosi, menentukan arah, dan membangun ketahanan mental. Di era yang ditandai oleh tekanan media sosial, ekspektasi orang tua, dan kebingungan memilih karier, siswa membutuhkan lebih dari sekadar pengajaran materi pelajaran. Mereka membutuhkan pendampingan.

Sering kali kita menemukan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara emosional. Nilainya tinggi, namun mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Di sinilah peran konselor menjadi sangat krusial. Konselor membantu siswa mengenali potensi dan keterbatasan diri, serta menumbuhkan pola pikir bertumbuh (growth mindset). Dengan bimbingan yang tepat, siswa tidak hanya belajar untuk lulus, tetapi juga belajar untuk bangkit.

Selain itu, konseling berperan besar dalam perencanaan karier. Banyak siswa memilih jurusan atau pekerjaan bukan karena minat dan bakat, melainkan karena tekanan lingkungan atau tren sesaat. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa salah arah di kemudian hari. Konseling karier yang terstruktur dapat membantu siswa memahami minat, nilai hidup, serta peluang yang realistis. Dengan demikian, masa depan yang dibangun bukan sekadar mengikuti arus, melainkan hasil dari keputusan sadar.

Saya juga berpendapat bahwa konseling berkontribusi pada pencegahan masalah yang lebih besar. Isu perundungan (bullying), kecemasan, depresi, hingga kenakalan remaja sering kali berakar dari masalah yang tidak tertangani sejak dini. Kehadiran layanan konseling yang aktif dan mudah diakses dapat menjadi benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental siswa.

Namun, sayangnya, di banyak sekolah, konseling masih dipandang sebagai “ruang hukuman” bagi siswa bermasalah. Paradigma ini perlu diubah. Konseling seharusnya menjadi layanan yang inklusif dan preventif, bukan reaktif. Semua siswa, bukan hanya yang bermasalah, berhak mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan diri.

Masa depan siswa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi nilai matematikanya atau seberapa banyak prestasi yang diraih. Masa depan juga ditentukan oleh seberapa baik ia mengenal dirinya, mengelola tekanan, dan mengambil keputusan. Dalam konteks inilah konseling menjadi investasi jangka panjang.

Jika sekolah sungguh-sungguh ingin membentuk generasi yang tangguh, adaptif, dan berintegritas, maka konseling harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan sekadar formalitas administratif. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia.

Konseling di sekolah memang tidak mengubah siswa secara instan. Konseling lebih bersifat proses bertahap yang membantu siswa memahami diri mereka, mengenali masalah, dan mengembangkan strategi untuk menghadapi tantangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini