Audiensi Germapa-Wali Kota, Wira Yudha Dorong Ruang Dialog Tak Sekadar Wacana
PALOPO, SPOTSATU.COM – Audiensi antara Gerakan Mahasiswa Palopo (Germapa) dan Wali Kota, Naili Trisal berlangsung hangat dan penuh keakraban. Pertemuan ini dinilai menjadi momentum penting dalam mempertegas arah Palopo sebagai Kota Pendidikan yang inklusif, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah dan kalangan mahasiswa.
Ketua Germapa, Wira Yudha, menekankan pentingnya ruang dialog sebagai fondasi utama dalam membangun kota berbasis pendidikan. Ia menyebut keterbukaan pemerintah terhadap kritik dan aspirasi publik menjadi kunci dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat.
“Palopo tidak cukup hanya menyandang label Kota Pendidikan. Harus ada ruang dialog yang terbuka agar publik bisa terlibat dan melakukan kontrol terhadap kebijakan pemerintah,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Dalam pertemuan itu, Wira Yudha juga mengingatkan agar komitmen yang disampaikan tidak berhenti pada tataran wacana. Menurutnya, perlu ada langkah konkret dalam memberdayakan sumber daya manusia, khususnya pemuda dan mahasiswa.
“Potensi SDM kita besar. Tinggal bagaimana pemerintah benar-benar menghadirkan program yang mampu memberdayakan pemuda secara nyata,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan intelektual mahasiswa, Germapa turut mengusulkan penyediaan fasilitas atau wadah khusus bagi mahasiswa lokal.
“Tempat ini kami harapkan dapat menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus menyalurkan aspirasi,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Naili Trisal menyatakan komitmennya untuk menjadikan dialog sebagai agenda berkelanjutan. Ia menilai mahasiswa memiliki peran strategis sebagai mitra kritis sekaligus kolaborator dalam pembangunan daerah.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya, baik melalui dialog maupun aksi demonstrasi, selama itu bertujuan untuk kepentingan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujar Naili.
Naili bahkan berencana mengoordinasikan dinas terkait, termasuk BPKAD, untuk merealisasikan penyediaan fasilitas tersebut. Meski ruang kolaborasi kini semakin terbuka, Wira Yudha menegaskan bahwa mahasiswa tetap akan menjalankan fungsi kontrol sosialnya.
“Kolaborasi tetap berjalan, tapi nalar kritis tidak boleh hilang. Mahasiswa harus tetap berada di garis depan dalam mengawal kebijakan yang berpihak pada rakyat,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan